Pemulihan Psikologis Anak-anak Setelah Pasca Bencana Tanah Longsor dan Banjir Bandang Di Kecamatan Culamega

Pengiat Trauma Healing Dan Yayasan Sayangi Tunas Cilik Indonesia Di Kp. Babakan
Anak-anak Antusias Mengikuti Trauma Healing

Cikuya.sideka.id -Masyarakat Tasikmalaya wilayah culamega beraktivitas seperti biasa pada 5 November 2018 pagi sampai sore. Semua berjalan relatif tenang, sampai akhirnya warga dikejutkan hujan lebat yang menguyur seisi kecamatan culamega kabupaten Tasikmalaya pada pukul 20.00 WIB s/d 01.00 WIB Dini hari Semua orang panik sebab tak ada yang menduga akan berakibat longsor dan banjir bandang yang akan melanda kecamatan culamega khususnya Desa Bojongsari dan Desa Cikuya.

Menggambar Adalah Salah Satu Cara Pemulihan Psikis

Setelah Longsor dan Banjir bandang menerjang, masyarakat dilanda keputusasaan. Rasa tak berdaya dan depresi menjadi problem serius di Kecamatan Culamega kala itu. Namun, tak hanya di Culamega, gangguan kejiwaan pasca-bencana adalah hal lazim di tengah bencana dan sesudahnya. Intervensi dibutuhkan apabila stres tak kunjung lenyap ketika bencana sudah berlalu, misalnya dengan pemulihan trauma, atau populer disebut trauma healing.

Tapi bagaimana sebetulnya proses trauma healing berlangsung?

Bencana Longsor Dan Banjir bandang mendorong Para Relawan Kecamatan Culamega dan pegiat Yayasan Sayangi Tunas Cilik memberikan Ibu Agnes. Mereka memberikan bantuan berupa dukungan psikososial bagi para penyintas bencana.  mengatakan bahwa Yayasan Sayangi Tunas Cilik menggunakan berbagai pendekatan berbasis komunitas di Culamega. Salah duanya, tutur Ibu Agnes, adalah pendekatan populasi dan piramida.

Lingkaran Cita-cita Antusias Anak-anak (Doc. EYP)

“Cara kerja pendekatan piramida kira-kira begini: di antara semua populasi itu mungkin yang mengalami Gangguan Stres Pasca-Trauma hanya sedikit, 1 sampai 10 persen. Semua mengalami stres tapi pelan-pelan akan pulih. Intervensi yang kami lakukan dibagi per fase. Di awal itu ada pendistribusian makanan, alat kesehatan, dan tenda penampungan. Memang itu bantuan fisik, tapi juga bisa membantu masyarakat secara psikologis,” ujar Ibu Agnes.

Pendekatan lain yang ditempuh Jackie dkk adalah pemberian bantuan psikologis awal atau Psychological First Aid (PFA). “PFA itu intinya mendengarkan tapi tidak banyak bertanya. Intinya memberi ruang untuk menyampaikan rasa takut. Penyintas juga diberikan edukasi soal informasi bencana atau informasi bantuan,” ujar ibu Agnes

Mengikuti Acara Demi Acara Trauma Healing (Doc.Eyp)

Kegiatan sosial seperti mengambar , sekolah sementara, atau melakukan kegiatan bersama anak-anak juga dilakukan Relawan Culamega dan Yayasan Sayangi Tunas Cilik.

Meski begitu, Ibu Agnes tak menampik pendekatan klinis bagi korban bencana yang membutuhkan perhatian khusus. Menurutnya, intervensi seperti konseling, terapi, atau rujukan ke psikiater dapat diberikan sesuai kebutuhan penyintas.

Pemberian Hadiah Kepada Anak-anak yang mengikuti Trauma Healing

Setelah itu, ia akan merasa tak berdaya dan kehilangan gairah hidup. Setelah mengalami semua hal itu, catat Ibu Agnes, perlahan-lahan ia akan menerima keadaan. Di titik itu, harapannya akan masa depan kembali tumbuh.

Adapun konsep pemulihan yang kedua, lanjut Ibu Agnes, mirip permainan ular tangga: proses pemulihan bisa berlangsung secara berbeda, tergantung pada masing-masing individu. Ada banyak faktor yang bisa membuat orang segera mampu “menaiki tangga” alias bisa “pulih”, di antaranya dukungan sosial dari orang lain, terjaminnya situasi yang aman dan nyaman, rasa kebersamaan dengan orang-orang sekitar, dan bantuan proses pemulihan. ( Doc. EYP)

Facebook Comments

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan